Pages

Senin, 05 Oktober 2009

KISAH-KISAH PEREMPUAN YANG MENGUBAH DUNIA

HELEN KELLER
(Tak Kenal Menyerah)


Cacat fisik tidak akan menjadi masalah besar apabila seseorang tidak cacat mental, cacat pikiran, dan cacat hati. Hal semacam itu juga dialami banyak pribadi, seperti misalnya Thaha Hussein, yang cacat mata tetapi memiliki hati yang jernih dan pikiran cemerlang. Thaha Hussein adalah orang buta yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mesir. Banyak orang lain yang seperti Thaha Hussein, misalnya Fatimah Hasan dari Zanzibar, Suster Sonia, Nawaf Kabbara dari Lebanon, dan tentu saja Helen Keller dari Alabama, AS. Terutama Thaha Hussein dan Helen Keller adalah pribadi yang mumpuni yang bisa dijadikan teladan. Pribadi yang sama sekali tidak terpengaruh cacat fisiknya, sehingga mencapai kesuksesan seperti orang-orang normal.

~~~~~~~~

Helen Keller pada awalnya tidak bisa menerima keadaan dirinya yang tuli dan tuna netra. Ia seperti tidak dapat menerima kenyataan kebutaan itu, padahal sewaktu dilahirkan penglihatan dan pendengarannya sempurna. Helen Adams Keller lahir 27 Juni 1880 di Tuscumba, sebuah kota kecil di barat daya Alabama, AS. Ayahnya, Kapten Arthur Henley Keller, dan ibunya, Kate Adams Keller. Kate Keller seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut blonde dan mata biru. Suaminya, Kapten Keller bertugas sebagai prajurit selama perang saudara di Amerika. Mereka tinggal di sebuah rumah dari papan yang sederhana bercat putih, yang dibangun kakek dan nenek Helen pada tahun 1820.

Namun, bisa dibilang bahwa kehidupan Helen Keller cukup dramtis. Pada Februari 1882, ketika ia berusia sekitar 19 bulan, ia jatuh sakit yang membuatnya kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Pada waktu itu, sementara orang mengatakan bawa penyakit Helen itu misterius, dokternya mengatakan bahwa Helen terkena brain fever. Kenyataan itu memang amat pahit bagi Helen. Ia pernah mengatakan ingin mati saja daripada hidup tanpa bisa melihat dan mendengar. Keadaan itu juga membuatnya tak dapat menirukan perkataan orang lain, termasuk ibu dan ayahnya. Wajar apabila kemampuan bicaranya sangat terbatas. Keadaan yang membuat emosinya sering tidak dapat dikontrol. Helen mudah marah, dan bahkan kalau marah membuat orang lain ngeri. Suatu hari, Helen pernah melemparkan adiknya yang masih bayi ke tanah. Untung saja ibunya segera datang, kalu tidak, mungkin ia akan bertindak lebih jauh terhadap Mildred, adiknya tersebut. Helen menjadi anak yang sangat sulit dimengerti. Pada saat Helen berusia 6 tahun, kedua orang tuanya bisa merasakan kesedihan yang dirasakan putri mereka itu.

Ibunya, pernah membaca buku karya Charles Dickens, American Notes, yang berkisah tentang tokoh bernama Laura Bridgman, yang juga tidak dapat melihat dan mendengar. Ibunya juga pergi mendatangi seorang dokter spesialis di Baltimore untuk minta saran tentang apa yang dialami Helen. Mereka mengatakan bahwa Helen memang tidak bisa melihat dan mendengar, namun bukan berarti ia tidak punya harapan. Para dokter itu percaya bahwa sekalipun Helen tidak bisa melihat dan mendengar, tetapi ia bisa berpikir dengan baik. Haruslah diakui, begitu keras usaha kedua orangtuanya agar Helen tidak tumbuh menjadi orang yang membenci hidup akibat cacat fisiknya itu. Berkat nasihat Alexander Graham Bell, seorang penemu telpon, keluarga Keller menulis surat kepada Michael Anagnos, Direktur Perkin Institusian dan Massachusetts Asylum yang menangani anak-anak cacat netra. Mereka kemudian mengirim seorang guru khusus untuk mengajar Helen, bernama Anne Sullivan. Keduanya bertemu pertama kali 3 Maret 1887 ketika Anne datang di rumah keluarga Keller di Tuscumba.

Pada awalnya Helen tidak dapat menerima kehadiran Anne Sullivan, bahkan menganggapnya sebagai musuh. Kebiasaan-kebiasaan buruk Helen membuat Anne prihatin, dan ia ingin mengubahnya. Kebiasaan buruk itu, antara lain cara makan dengan tangan sambil berjalan mondar-mandir. Memang cukup sulit mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan dalam waktu yang cukup lama itu. Namun karena kesabarannya, sedikit demi sedikit Anne berhasil mengajarkan kepada Helen, bagaimana cara makan yang baik. Helen juga menurut kemauan gurunya itu. Pernah terjadi ketidaksepahaman antara Anne dan orangtua Helen. Mereka suka mencampuri cara Anne mengajar dan mendidik Helen. Karena Anne tidak ingin siapa pun ikut campur, maka ia minta untuk tinggal berdua saja dengan Helen di sebuah rumah kecil yang jaraknya 500 meter dari rumah induk.

Pada awalnya Helen berontak. Namun setelah Anne mengajarkan beberapa prakarya yang menarik, Helen merasa senang dan membuatnya bisa berdamai dengan gurunya itu. Di dalam rumah yang agak terpencil itu, perkembangan jiwa Helen cukup signifikan. Beberapa pelajaran prakarya Anne mulai bisa ditangkap dengan baik oleh Helen. Gadis itu, antara lain bisa kalung dari manik-manik, membuat syal dan beberapa prakarya yang lain. Saatnya Anne mengajarkan bagaimana Helen berbicara dengan bahasa isyarat. Setelah perkembangan Helen semakin memadai, Anne membawa Helen ke Boston untuk menerima pendidikan formal. Helen memasuki Institut Perkin, tempat Anne Sullivan dulu mengajar. Karena di sekolah ini banyak siswa yang bisu tuli, maka Helen merasa mendapat tempat yang bagus. Dengan teman-temannya, ia mulai berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Di masa liburan, Anne sering mengajak Helen ke pantai atau ke gunung. Mereka juga suka bermain di salju, berselancar atau membuat boneka orang-orangan dari salju. Sejak itu, semangat belajar Helen sangat meningkat tajam.

Helen begitu bersemangat belajar ilmu bumi, sejarah, tata bahasa, matematika, dan lain-lain. Tahun 1890 Anne membawa Helen ke seorang guru lain yang ahli mengajar bicara anak bisu tuli. Guru itu, Sarah, kemudian melatih Helen belajar berbicara dengan baik. Helen sangat serius belajar, tidak saja saat di depan guru, tetapi di rumah ia juga giat berlatih. Helen belajar bicara dengan serius untuk mewujudkan cita-citanya kuliah di perguruan tinggi. Namun perjalanan panjang yang penuh tantangan tidak membuat Helen putus asa. Tahun 1896 ia belajar di Cambridge khusus putri. Tahun 1900 ia lulus tes untuk kuliah di Universitas Harvard. Empat tahun kemudian ia lulus dari Harvard dengan predikat memuaskan. sebelumnya, tahun 1903, ia menulis dan menerbitkan bukunya yang pertama kali berjudul The Story of My Life. Hal ini tidak sulit. Karena sejak kuliah ia sudah mulai belajar menulis.

Sejak karyanya terbit, nama Helen Keller yang tidak bisa melihat dan mendengar, tetapi berhasil menjadi sarjana itu mulai populer. Perempuan yang ditinggal mati ayahnya, Oktober 1896 itu, pada 1913 mengadakan ceramah keliling Amerika. Karena kegiatannya semakin padat, maka ia mengangkat Polly Thomson sebagai sekretaris. Tahun 1918 riwayat hidupnya dibuat film, dan ia sendiri menjadi bintangnya. Tahun 1924 ia kembali keliling Amerika untuk memenuhi undangan ceramah. Tahun itu juga Kate Keller, ibunya, meninggal dunia. Nama Helen Keller mulai dikenal di dunia internasional. Tahun 1931 ia mendapat gelar kehormatan dari beberapa perguruan tinggi di AS. Tahun itu juga Helen menghadiri pertemuan tuna netra sedunia yang pertama. Pada 20 Oktober 1936, guru tercintanya, Anne Sullivan meninggal dunia pada usia 70 tahun. Tahun 1948 Helen mengunjungi Austria dan Jepang. Tahun 1955 mengunjungi banyak negeri di Europe dan Asia, antara lain India, Pakistan, Filipina, Jepang, dan Indonesia. Tahun 1960 Polly Thomson, sekretaris pribadi Helen meninggal dunia. Delapan tahun kemudian, 1 Juni 1968, Helen Keller meninggal dunia pada usia 87 tahun. Namun jauh sebelumnya (1945), karena terinspirasi oleh kehidupan dan perjuangan Helen Keller, berbagai negara di seluruh dunia membuat undang-undang perlindungan terhadap orang-orang cacat. Betul ungkapan yang mengatakan, bahwa cacat fisik tidak akan menjadi masalah besar apabila seseorang tidak cacat mental, cacat pikiran, dan cacat hati.

Tidak ada komentar: