Pages

Jumat, 27 Maret 2009

CerPen


PENANTIAN BERUJUNG BAHAGIA

“Tam, bener nggak sih kamu suka sama Rin?” Budi dengan muka serius bertanya pada Tama yang lagi asyik menikmati semilir angin senja.

“Menurutmu gimana?” Tama balik nanya.

“Lho, kok kamu malah balik nanya? ‘Kan itu perasaanmu sendiri. Memangnya kamu nggak tau perasaanmu sama dia?” Budi nanya balik dengan muka yang berkerut kayak kakek-kakek.

Tama dan Budi adalah dua sahabat sejak mereka masih duduk di bangku SD. Sekarang Tama masih SMA sedangkan Budi sudah kuliah di universitas di luar Parepare. Mereka sedang duduk di depan bangunan keluarga Budi yang sedang direnovasi. Merekapun saling curhat sebelum Budi kembali ke sekolahnya.

“Sebenarnya sih……,” Tama menggantung jawabannya sambil senyum-senyum melirik Budi yang semakin penasaran.

“Sebenarnya apa? Aduh, aku jadi penasaran nih…!” Budi mulai jengkel dengan sikap Tama.

“Sabar dong! Kalau mau tau kamu harus sabar dulu. Aku ‘kan perlu siapin mental dulu,” jawab Tama sambil cekikikan yang bikin Budi tambah penasaran.

“Alaaahhh…., ngomong gitu aja kok repot!” Budi tampak mulai nggak sabar.

“Oke deh. Aku bukan lagi suka sama Rin, tapi udah sayang banget sama dia. Emang sih aku sayang dia udah lama, apalagi sejak kami sering telpon dan sms-an rasa sayangku tambah gede sama dia,” jawab Tama dengan jujur.

“Nah, gitu ‘kan gampang daripada berbelit kayak tadi. Hehehehe….. ternyata tebakanku nggak meleset,” tawa Budi dengan terbahak-bahak.

“Udah puas ‘kan? Sekarang giliran kamu lagi yang cerita tentang cewek pujaanmu itu. Awas lho kalau bohong!” ancam Tama.

“Oke, oke. Cewek itu sebenarnya Novi. Aku udah lama pendam perasaanku sama dia. Tapi, aku ragu ‘tuk ungkapin kar’na dia kayaknya suka sama seseorang deh,” jawab Budi dengan agak memelas.

“Kenapa nggak kamu tanya aja sama dia. Tau aja dia belum ada yang punya. Daripada ‘ntar disambar orang!” usul Tama.

“Tapi Tam, aku takut. Lihat dia aja aku udah grogi duluan. Gimana mau ngomong langsung sama dia, bisa mati aku!” Budi tampak mulai pasrah
.
“Udah deh, biar aku yang tanya ke dia. Kamu bawa ponsel ‘kan? Kita telpon aja sekarang,” Tama memberikan jalan keluar pada Budi.

Merekapun menghubungi ponsel Novi. Panggilan pertama dan kedua gagal, tapi yang ketiga langsung diangkat sama Novi. Tapi, hanya Tama yang bicara karena Budi ada urusan dengan para pekerja bangunan.

“Halo, ada apa Bud?” suara Novi terdengar dari seberang.

“Halo juga. Ini dengan Tama. Aku nggak memgganggu ‘kan?” tanya Tama.

“Oh, Tama ya. Nggak kok. Maaf, aku telat angkat. Tadi abis dari kamar mandi. Ada perlu apa ya?” tanya Novi.

“Nggak apa-apa kok. Aku hanya mau bertanya tentang suatu hal. Bisa ‘kan?” Tama langsung ke pokok pembicaraannya.

“Boleh-boleh aja. Memangnya tentang apaan sih?” Novi mulai penasaran.

“Gini, maaf ya sebelumnya. Aku mau tahu apa kamu udah punya pacar atau seseorang yang kamu sukai?” Tama bertanya dengan hati-hati.

“Ehmm… Gimana ya, sebenarnya aku belum punya pacar, tapi aku memang suka sama seseorang gitu,” jawab Novi malu-malu.

“Oh, gitu ya. Kalau boleh tau, orang itu siapa?” tanya Tama tanpa malu-malu.

“Aduh, aku malu untuk bilang. Gimana ya….? Sebenarnya…. orang itu kamu, Tam. Aku udah lama suka sama kamu,” jawab Novi dengan tersendat dan malu-malu.

“Haaaa…. Kamu nggak main-main ‘kan?” tanya Tama dengan terkejut.

“Aku nggak main-main kok. Udah lama mau kukatakan, tapi aku lihat kamu sepertinya dekat banget sama Rin. Aku jadi ragu. Karena sekarang kamu nanya ke aku, jadi aku jawab aja dengan jujur. Kamu mau nggak jadi pacar aku,Tam?” jawab Novi dengan penjelasan yang bikin Tama jadi tambah kaget.

“Ehmm…Gimana ya, Nov? Sebenarnya maksud aku nanya kamu tentang hal itu nggak ada hubungannya dengan aku. Aku hanya mau nolongin temanku,”Tama jadi tambah bingung.

“Oh..gitu ya. Temanmu yang mana?” tanya Novi dengan nada kecewa.

“Maaf, aku nggak bisa bilang ke kamu. Ini rahasia soalnya,”jawab Tama dengan hati-hati.

“Nggak apa-apa kok. Tapi, bisa tidak kamu mikirin dulu permintaanku tadi?” tanya Novi dengan nada berharap.

“Baiklah. Akan aku pikirkan. Tapi aku nggak bisa jawab segera,” balas Tama.

“Oke deh. Thanks ya, Tam!” sahut Novi gembira.

“Kalau gitu, udah dulu ya. Sampai jumpa!” Tama mengakhiri pembicaran.

Kata-kata Novi tadi terngiang-ngiang dalam pikiran Tama. Dia nggak nyangka kalau Novi punya perasaan khusus sama dia. Aneh pikirnya kalau si jelita itu bisa menyukainya. Tiba-tiba wajah manis Rin terbayang di pikirannya. Rin adalah cewek yang pintar dan sederhana. Dia punya kharisma yang cukup kuat sehingga Tama bisa jatuh hati padanya. Tama tidak bisa begitu saja melupakan Rin. Tapi, dia takut mengecewakan Novi apalagi mengkhianati Budi, sahabatnya. Betul-betul dilema.

“Hei! Kok ngelamun? Lagi pikirkan Rin, ya?” suara Budi yang menggelegar mengagetkan Tama.

“Dasar! Bisanya ngagetin orang aja! Nggak bisa lihat orang senang ya,” sungut Tama.

“Maaf, maaf. Kamu sih, ngelamunnya serius sekali. Gimana hasilnya?” Budi cekikikan sambil minta maaf.

“ Tadi dia bilang kalau nggak punya pacar, tapi ada seseorang yang dia sukai. Aku nggak tau orang itu siapa karena dia bilang rahasia,” jawab Tama berbohong.

“Yah…. Udahlah! Memang aku lagi apes. Thanks, ya Bro! Kita pulang yuk, sudah gelap nih,” Budi mengajak Tama pulang dengan lesu.

Tama berjalan mengikuti Budi. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya setelah membohongi sahabatnya itu. Namun, apa jadinya kalau Budi tahu bahwa Novi menyukainya. Persahabatan mereka bisa jadi taruhannya. Tama harus cari jalan keluar segera. Dia langsung teringat pada Rin. Cewek itu selalu bisa menenangkan hatinya.

“Halo! Ini kamu, Rin?” suara Tama terdengar putus-putus dari seberang.

“Iya, ini aku. Ada apa kamu nelpon malam-malam?” sahut Rin dengan agak mengantuk.

“Nggak ada apa-apa. Hanya kangen sama kamu kok. Maaf kalau aku mengganggu. Oh ya, ada yang mau kubicarakan sama kamu, tapi nanti kalau kita ketemu. ‘Met malam dan ‘met tidur. Sampai jumpa!” Tama mengakhiri pembicaraan.

Tama tidak tega menceritakan kejadian tadi sore pada Rin. Tama tahu kalau Rin juga punya perasaan spesial padanya dan dia senang karena perasaannya pada Rin tidak bertepuk sebelah tangan. Dia harus mencari cara untuk memberitahukannya pada Rin tanpa harus membuat gadis itu sakit hati.

Lima hari kemudian…. Di aula gedung….

“Rin, kamu ingat nggak kata-kataku tempo hari tentang suatu hal yang mau kubicarakan sama kamu?”tanya Tama hati-hati.

“Oh, iya aku ingat. Kamu ada masalah, ya? Saat itu bicaramu serius banget sih. Aku jadi takut terjadi sesuatu pada kamu,”jawab Rin dengan sungguh-sungguh.

“Rin, aku bingung mau mulai dari mana. Aku pusing dengan masalahku ini,” keluh Tama.

“Pelan-pelan aja. Aku nggak maksa kamu kok. Lagipula kita punya banyak waktu. Kamu santai, aja,” jawab Rin menenangkan.

“Masalahnya gini, lima hari yang lalu aku dan Budi curhat-curhatan. Budi bilang kalau dia suka sama Novi, tapi dia takut Novi sudah punya pacar. Jadi aku nolongin dia bicara ke Novi. Saat ku tanya, Novi bilang dia nggak punya pacar. Tapi, dia bilang kalau dia suka sama aku. Dia minta aku untuk jadi pacarnya. Aku belum berikan jawaban. Aku butuh bantuan kamu, Rin,” jelas Tama panjang-lebar.

“Ehm…menurutku, kamu harus dengar kata hatimu sendiri. Bagaimanapun juga kamu yang akan menjalani suatu hubungan. Kalau kamu punya perasaan sama dia, yah…kamu terima aja. Tapi kalau nggak, kamu harus beritahu dia segera. Jangan bikin dia menunggu terlalu lama,” saran Rin dengan bijak dan agak terpaksa.

“Tapi masalahnya, aku bingung dengan perasaanku juga. Aku nggak tau dengan pasti apa aku punya perasaan sama dia atau tidak,” jawab Tama masih dengan kebingungan.

“Kalau menurutku, kamu harus tetap mengikuti kata hatimu. Jangan sampai kamu jadi menyesal nantinya. Pikirkan dulu baik-baik,” saran Rin sekali lagi.

Rin terdiam. Dia mulai pasrah bahwa Tama tampaknya akan memilih Novi. Novi memang jauh lebih baik dari dirinya. Tapi, demi kebahagiaan Tama, Rin akan merelakan Tama pacaran dengan Novi. Asal Tama senang, Rin juga akan ikut senang.

“Tapi Rin….,” suara Tama memecah keheningan. Ada seorang cewek yang udah lama aku sayangi. Dia baik dan aku rasa kalau kami itu sangat mirip. Apa yang harus aku lakukan pada cewek itu?” tanya Tama sambil menahan senyum.

“Wahhh, masalah kamu rumit juga! Aku udah pusing nih!” jawab Rin tanpa ada kesadaran sedikit pun. “Kalau kamu memang nggak ada perasaan sama Novi, kamu terus terang aja sama dia. Kalau kamu sayang sama cewek itu, kamu ungkapin perasaanmu sebelum cewek itu disambar orang lain,” tukas Rin dengan nada miris.

“Nah…kalau gitu, kamu mau nggak terima aku jadi pacarmu Rin?” tanya Tama dengan wajah tersenyum.

“Maksudmu?” Rin balik bertanya dengan kening berkerut.

“Cewek yang aku maksud itu, kamu. Dan kamu nggak usah pikirkan tentang Novi. Aku akan beritahu dia segera. Aku hanya ingin tau apakah tindakan yang kulakukan ini seperti yang kamu inginkan. Dan ternyata memang benar. Jadi, kamu mau ‘kan jadi pacarku?” tanya Tama dengan wajah yang penuh harap.

“Jujur, aku juga sayang sama kamu. Tapi, biar bagaimanapun kita nggak bisa mengabaikan perasaan Novi. Apa yang akan kamu katakan padanya?” tanya Rin dengan cemas.

“Kamu tenang aja. Aku akan beritahu dia yang sebenarnya kalau aku sudah punya seseorang yang aku sayang dan orang itu bukan dia,” sahut Tama. Gimana dong? Kamu mau ‘kan?” tanya Tama sekali lagi.

Anggukan kepala Rin memberikan kepastian tentang hubungan mereka yang selama ini TTM-an. Memang dalam cinta, pengorbanan adalah hal yang mutlak. Dalam hal ini, Rin tau benar. Dia sudah lama memendam perasaannya pada Tama, kurang lebih dua tahun. Dia sangat berharap Tama juga punya perasaan yang sama. Toh, penantian itu tidak sia-sia. Dalam hati Rin berbisik,”Maafkan aku, Nov. Bukan maksudku melukaimu.”

THE END

created: by the creator ^_^

Tidak ada komentar: