Pages

Senin, 12 Juli 2010

SAMPAI MAUT MEMISAHKAN KITA

SAMPAI MAUT MEMISAHKAN KITA

Banyak pasangan kekasih bersumpah akan selalu bersama selamanya, sepanjang hayat maupun ketika menghadapi maut, tetapi aku belum pernah mendengar kesetiaan dan pengabdian yang dapat dibandingkan dengan kesetiaan dan pengabdian Bu Isidor Straus.
Tahun 1912, Bu Straus dan suaminya naik Titanic dalam pelayaran perdananya yang membawa maut itu. Tak banyak wanita yang tenggelam bersama kapal itu, tetapi Bu Straus adalah satu dari sedikit wanita yang tidak selamat karena alasan sederhana: Dia tidak tega meninggalkan suaminya.
Beginilah Mabel Bird, pelayan Bu Straus, yang selamat dari kecelakaan itu, bercerita setelah dia diselamatkan.
“Ketika Titanic mulai tenggelam, wanita-wanita yang panik dan anak-anak adalah yang pertama-tama dipindahkan ke sekoci. Pak dan Bu Straus tampak tenang dan menghibur para penumpang, mereka bahkan menolong orang-orang naik ke sekoci.”
“Kalau tidak karena mereka,” kata Mabel, “aku pasti tenggelam. Aku orang keempat yang naik ke sekoci kelima. Bu Straus menyuruhku naik, lalu menyelimutiku dengan selimut hangat.”
Kemudian Pak Straus menyuruh istrinya naik menyusul pelayannya dan orang-orang lain. Bu Straus beranjak hendak naik. Satu kakinya sudah berada di dalam sekoci, tetapi tiba-tiba dia berubah pikiran, dia berbalik lalu melangkah kembali ke kapal yang sedang tenggelam.
“Sayangku, naiklah ke sekoci!” suaminya memohon.
Bu Straus lekat-lekat menatap mata pria dengan siapa dia menghabiskan sebagian besar hidupnya, pria yang menjadi sahabat karibnya, belahan jiwanya yang sejati, dan yang selalu memberikan penghiburan baginya. Dia meraih tangan suaminya dan mendekapkan tubuh Pak Straus yang gemetar ke dadanya.
“Tidak,” kata Bu Straus dengan gagah, seperti kemudian diceritakan orang. “Aku tidak akan naik sekoci. Kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Kita sudah tua sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ke mana pun engkau pergi, aku ikut.”
Dan begitulah mereka terlihat untuyk terakhir kalinya. Berdiri berpelukan di geladak; wanita yang penuh pengabdian itu dengan mantap berlindung dalam pelukan suaminya, sementara suaminya dengan penuh cinta memeluk dan melindunginya. Perlahan-lahan kapal tenggelam semakin dalam. Selalu bersama… untuk selamanya…

Barbara De Angelis, Ph.D.
Chicken Soup for The Couple’s Soul. 2005

Tidak ada komentar: